Sabtu, 06 Oktober 2018

Cerpen Anak Desa



Di Balik Darah Juang Masa Depan

Perjuangan memang tidak selalu berjalan dengan mulus. Selalu saja mendapati halangan dan rintangan. Tak sedikit orang berhasil tidak melewati sebuah perjuangan untuk mencapai apa yang di inginkan. Karena pada dasarnya sebuah perjuangan yang kita lewati dengan sungguh-sungguh akan menghasilkan buah yang manis. Terasa pahit memang saat-saat melewati jembatan menuju tangga kesuksesan. Pastinya penuh dengan keringat dan air mata. Namun dibalik kepahitan seperti buah mengkudu namun hasil dari proses perjuangan sangatlah manis seperti madu. Hal seperti inilah yang dialami oleh Aryanti Dwi Saleha. Ia biasa dipanggil Dwi. Si gadis desa yang mempunyai segenggam asa untuk memajukan desanya yang jauh dari pusat keramaian. Ia berharap desanya, anak kecil banyak yang mengenyam pendidikan ketimbang nikah muda. Orang-orang yang pengangguran tak pergi ke kota untuk mengadu nasib menjadi kaya dan pemuda pemudi yang tak jelas kerjanya juga diharapkan punya skill agar mereka dapat mensejahterakan desa tempat kelahirannya.
Namun sangat sulit ia bayangkan bisa melakukan itu semua mengingat desanya tak terjamah oleh orang-orang kota yang memiliki kepandaian untuk melatih orang desa. Bisa dibilang letak desanya berada di pelosok negeri. Hanya kemungkinan kecil orang-orang besar yang datang ke desa mereka  untuk mengeskploitasi kekayaan alam di desanya. Itu pun mereka datang secara illegal karena tak mau keberadaannya diketahui oleh banyak orang. Mereka sangat rakus. Merampas alam dengan rasa tak berdosa. Membakar hutan, menebang hutan dijadikan sebuah lahan baru untuk kepentingan mereka sendiri. Sangat sedih dirasakan oleh kami termasuk aku. Akan tetapi, kami mati tak berdaya untuk melawan kejahatan mereka. Tak punya nyali tak punya senjata untuk mengusir mereka. Kami meratap berharap ada malaikat yang bisa menolong desa mereka.
“Aku sudah muak melihat orang bertopeng itu menguasai tanah kami. Tanah kelahiran kami.” Ratapan seorang nenek dengan raut wajah kesal.
“Akupun juga seperti itu Nenek Iyah. Bertahun-tahun kita hidup seperti ini. Punya negara namun terasa tak ada pemerintahannya.” Timpal ibu rohaya yang sudah setengah baya.
Dwi miris, ngelu mendengar ratapan kedua tetangganya itu.
             “ Andai aku bisa melakukan apapun untuk mereka.” Kata Dwi didalam hatinya.
            Ia masih kepikiran ucap rintihan dari tetangganya. Dengan suara gergaji yang bising menambah suasana hatinya makin menangis. Ia ingin sekali mengusir para penjahat negeri yang  seperti tikus mengkhianati tanah kelahirannya. Banyak orang didesa itu yang sangat terpukul namun tak sedikit juga orang desa yang bekerja sama dengan orang kota yang kejam itu. Bayang-bayang lingkar kepedihan memenuhi otak gadis desa itu. Ia terus memutar otak, mencucinya agar mendapat ide untuk memajukan desanya. Dari hasil memeras otaknya akhirnya Dwi ingat sesuatu. Ya, ingatan mengenai teman di seberang desa.
            Ia kemudian bergegas menuju ke hulu sungai untuk pergi menemui temannya. Dengan modal perahu kecil dan dayung ia menyusuri setiap arus sungai. Tak lama kemudian telah sampai dirinya di desa yang lumayan terbuka dibanding desa nya yang seharusnya mendapat perhatian penuh dari orang-orang yang mencintai negerinya. Dwi terus berjalan menuju rumah temannya yang bernama Angga. Ia harus meminta bantuannya untuk desa nya.
Sampailah Dwi di depan pintu Angga.
            “Assalamualaikum, assalamualaikum.” Salam Dwi sambil mengetuk pintu.
            “Walaikummussalam.” Jawab seorang ibu dari dalam rumah.
Dwi langsung tersenyum kepada Ibunya Angga dan bersalaman. Dwi dipersilahkan masuk dan duduk. Sedangkan Ibu Yati membuatkan teh untuk Dwi.
            “Silahkan diminum dulu Nak Dwi!” Kata Bu Yati.
            “Iya bu, terimakasih.” Jawab Dwi dengan lembut.
            Setelah minum teh, Dwi menanyakan keberadaan Angga dan menjelaskan maksud dirinya datang jauh-jauh ke rumah Angga. Namun alangkah malang nasibnya. Saat itu Angga sedang tidak berada di rumahnya melainkan sedang bertugas di desa lain. Dwi sangat kecewa.
            “Baiklah buk, terimakasih atas jamuannya bu. Semoga di lain waktu bisa berjumpa dengan ibu.” Ucap Dwi sambil berpamitan.
“Iya nak sama-sama. Nanti kalau Angga sudah pulang, akan ku suruh menemuimu. Hati-hati dijalan ya Nak Dwi.”  Kata Bu Yati sambil melambaikan tangan.
Dwi pulang dengan tangan kosong karena belum bertemu dengan Angga. Namun besar harapnya semoga esok harinya Angga dapat menemui dirinya. Yah, firasar Dwi benar. Keesokan harinya Angga datang kerumahnya. Dengan perasaan herannya mengapa lingkungan sekitar rumah Dwi menjadi hutan yang tak asri lagi.
“Assalamualaikum.” Ketukan pintu dari Angga.
“Walaikumussalam, eh Angga datang alhamdulillah.” Jawab Dwi dengan perasaan senang.
Angga langsung menanyakan mengapa kemarin temannya itu ke rumahnya,” Kemarin ada apa Dwi kamu mau menemuiku?”
Dwi langsung menjelaskan tentang keadaan desa nya yang mulai kacau. Ia berinisiatif untuk memajukan desa nya agar hidup dengan sejahtera dan mendapat lirikan dari pemerintah kota. Selain itu ia berencana untuk menangkap dan mengusir penjahat yang merusak alam desa nya itu. Dan ia meminta bantuan kepada Angga untuk melakukan semua itu. Karena ia yakin takkan mampu melakukan sendiri tanpa campur tangan temannya. Dengan penjelasan yang panjang lebar, Angga pun mengerti maksudnya sekarang.
“ Jadi apa yang bisa kita lakukan untuk desa ini?” Tanya Angga dengan serius.
Dwi menjelaskan rencananya, “begini Angga aku punya rencana. Pertama yang bisa dilakukan itu kita perlu mendidik anak-anak di desa ini untuk mencari ilmu. Yang kedua melatih orang-orang di desa ini yang pengangguran untuk memberi keterampilan agar tidak bergantung kepada orang lain dan punya skill, selain itu pengangguran yang masih muda dibanding untung menikah muda atau pergi ke kota lebih baik kita kasih motivasi dan soft skill agar mereka bisa memajukan desa ini. Kalau bukan kita siapa lagi coba?”
            “Aku setuju dengan rencanamu Dwi. Kita harus mendirikan sekolah buat anak-anak meskipun hanya sederhana.” Ujar Angga sambil tersenyum.
            Setelah berbincang-bincang, Angga pun pamit dengan Dwi karena masih ada kepentingan yang harus diselesaikan. Dwi pun mempersilahkan dengan raut wajah sumringah. Dua hari kemudian Angga dan Dwi berkeliling di desa untuk mengajak anak-anak di desa bersekolah. Namun ada kendala banyak orang tua yang tidak setuju dengan program yang diadaain Angga sama Dwi. Mereka berpikir bahwa sekolah tinggi-tinggi pun percuma karena mereka jika sudah menjadi orang besar akan berubah jahat seperti orang-orang kota itu. Angga dan Dwi berusaha untuk membenarkan tentang sekolah, tidak semua orang seperti itu. Namun hasilnya nihil. Orang-orang di desa tetap tidak percaya karena telah terkontaminasi oleh perbuatan jahat orang kota yang membuat orang se desa membenci orang itu.
            “Bagaimana ini Angga? Program kita tidak akan jalan kalau banyak orang tua yang tidak memperbolehkan anaknya bersekolah.” Tanya Dwi dengan perasaan gelisah.
            Angga pun mencoba menenangkan Dwi, “Sabar Dwi, kita tenang dulu. Kita pikirkan alasan apa yang masuk logika untuk orang di desa. Dengan begitu akan mudah kita untuk merayu mereka. Kita lanjutkan besok saja ya. Hari sudah mulai sore.”
            Dwi dengan perasaan lega, “ Iya Angga, aku nanti pikirkan cara untuk besok semoga berhasil. Makasih ya.
            Angga pun mengangguk sambil tersenyum manis. Keduanya kemudian pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah Dwi ditanya oleh ibunya, namun jawaban Dwi nihil hingga ibunya memberi motivasi untuk dirinya. Hari mulai malam tetapi matanya belum bisa tidur. Ia masih memikirkan cara untuk besok. Dan seribu alasan terus mengiang di otaknya. Alasan mana yang cocok untuk memnjelaskan kepada orang tua calon murid-muridnya. Agar diperbolehkan untuk sekolah demi keberlangsungan kehidupan desa nya. Pada akhirnya ada salah satu alasan yang dianggap ampuh untuk meyakinkan para warga.
            Malampun berlalu hingga berganti fajarnya matahari. Dwi bangun dengan segar, ia masih ingat betul alasan apa yang akan diutarakan nanti. Seperti biasa Dwi berkeliling bersama Angga. Mereka datangi rumah-rumah warga yang mempunyai anak-anak. Mereka menjelaskan tujuan mengadakan program ini. Dengan tegas dann yakin atas alasannya akhirnya banyak warga yang percaya dan menyekolahkan anak mereka.
            “Alhamdulillah ya Angga akhirnya kita bisa mendirikan sekolah.” Kata Dwi penuh syukur.
            “Iya Dwi, alhamdulilah. Semoga rencana yang lain juga berhasil ya.” Seru Angga sambil senyum syukur.
            Program sekolah yang dijalankan pun lancar, hanya saja sebetulnya perlu bantuan untuk kapur tulis dan buku-buku yang masih layak pakai. Tak sulit untuk itu. Angga mempunyai teman-teman di sebrang desa yang bisa membantu mereka. Bahkan sebagian temannya rela menjadi relawan untuk mengajar meski sarana prasarana di desa Dwi sangatlah sulit. Anak-anak senang karena banyak guru yang datang untuk mengajar. Mereka cantik-cantik dan ganteng dengan rasa riang mereka belajar dan bermain bersama anak-anak. Suasana menjadi mengharukan menghanyutkan, seakan-akan tidak ada kejadian apa-apa di desa Dwi. Di tengah-tengah suasana yanng mengharukan tiba-tiba terdengar bunyi bisingnya gergaji. Ternyata para penjahat itu datang lagi. Tanpa disadari banyak relawan sekolah yang menyaksikan kejadian itu.
            “Mereka kok tega ya Angga melakukan itu semua. Apa mereka tidak punya pikiran tindakan yang dilakukan sangat membahayakan desa ini bahkan negeri ini juga akan terkena dampaknya.” Gerutu Dina relawan cantik.
            “Ya begitulah Din.Warga disini dan Dwi tak bisa berbuat apa-apa. Mereka takut akan ancaman penjahat itu. Kalaupun kami melawan kita sendiri yang terancam bukan penjahat itu!” Seru Angga dengan kesal.
            Melihat ulah para penebang illegal itu, relawan-relawan berniat untuk mengusir mereka dengan menggunakan jalur hukum. Para relawan itu cukup cerdik. Mereka yang mempunyai kamera, memfoto para penjahat itu secara diam-diam untuk dijadikan bukti kepada polisi dan pemerintahan pusat.
            Dengan menunjukkan foto, Ardi berkata,”Tenang saja bukti ini sepertinya kuat untuk mengusir mereka dan mereka akan dipenjara atas perbuatan mereka.”
            Riko menambahkan, “Betul itu Ar. Kamu jangan takut Dwi. Setelah dari sini kami akan menuju ke balai kota dan kantor polisi. Kami akan melaporkan tindakan oknum-oknum itu. Kamu juga tolong bilang sama warga jangan gegabah dulu meskipun sudah gemes dengan tindakan mereka. Awasi terus saja mereka!”
            Dwi dengan bahagia dan matanya terpancar indah,”Iya Ardi, Riko makasih ya sudah mau bantu desa ini. Semoga kita akan menang dari penjahat itu.”
            Para relawan sekaligus Angga pun meninggalkan desa Dwi karena hari sudah berlonjak sore. Mereka takut keberadaan mereka akan dicurigai oleh penjahat itu dan akan mengancam keselamatan mereka. Setelah mereka berpamitan, Dwi pun mengumpulkan para warga di sekolahan untuk menyampaikan yang dikatakan Riko tadi.
            “Terimakasih para bapak dan ibu yang berkenan kumpul di tempat ini. Disini saya akan menyampaikan hal penting mengenai para penjahat itu.” Kata Dwi dengan serius.
Suasana menjadi tegang dan para warga memusatkan perhatiannya kepada Dwi.
            Dwi melanjutkan pembicaraannya, “Begini bapak ibu teman-teman saya sudah mempunyai rencana dan mereka melibatkan polisi. Disini kita tidak usah takut karena ini tanah kita. Alam kita. Kita harus mengusir penjahat itu. Untuk itu dimohon para warga tetap awasi mereka. Dan tolong buntuti persembunyian mereka agar mudah dilacak oleh polisi.”
            Suasana semakin mencekam. Semua diam dan membisu. Mereka kemudian bubar dan pulang ke rumahnya masing-masing karena sudah malam. Tiga hari kemudian Angga datang sendirian ke sekolahan di desa Dwi. Tepat sekali Dwi sedang berada disana dan bising-bising gerjaji itu terdengar lagi. Dwi tercengang melihat Angga datang sendirian. Bukankah seharusnya dia datang sama teman-temannya? Namun dia datang sendirian. Angga pun menceritakan semua yang telah terjadi. Ternyata teman-teman Angga diancam oleh para oknum penjahat itu. Mereka tahu dari salah  satu penduduk desa ini yang bekerja sama dengan mereka. Namun teman-teman Angga tidak menyerah. Mereka pura-pura menyerah dan tidak melaporkan mereka. Tetapi mereka tetap melaporkan. Oleh karena itu, aku datang sendiri dan mereka akan datang sebentar lagi sekitar 15 menit.
            Benar kata Angga, teman-temannya datang dengan polisi. Mereka mengendap-endap agar tidak tercium kehadirannya oleh penjahat itu. Beberapa menit kemudian saat-saat mereka lelah dan lengah karena sehabis melakukan tindakan terlarang. Mereka ditangkap dengan sigap oleh polisi. Sungguh menakjubkan banyak polisi yang turun tangan. Kami pun tidak tinggal diam. Kami menangkap warga yang dicurigai sekongkol dengan oknum itu. Mereka kami tangkap dan di ikat dengan kencang serta diserahkan ke polisi. Suasana nya sangat mencekam. Semua masih tidak percaya akhirnya para penjahat pergi juga dari desa yang kami cintai.
            “Kau hebat Angga dan juga teman-temanmu!” Kata Dwi sambil menepuk pundak Angga.
            “Kau juga hebat Dwi.” Balas tepukan dari Angga.   
            Semua terdiam. Dan Riko berkata sambil jingkrak-jingkrak, “akhinya.....”
Semua tertawa. Mereka semua bahagia karena telah berhasil meringkus penjahat. Angga pun tidak lupa mengingatkan program-program yang telah direncanakan oleh mereka berdua. Dwi pun ingat dan akan menjalankan tugasnya.
            “Baiklah Angga terimakasih kamu sudah mengingatkanku. Saatnya kita memajukan desa ini.” Kata Dwi kepada Angga.
            “Kita?” Jawab Angga dengan menggoda Dwi.
            Dwi pun membalas, “  ehmm ehmm maksudnya kita sama teman-temanmu itu.”
            Hari-hari sudah berlalu. Semenjak kejadian itu semuanya menjadi lebih baik. Dwi bersama Angga dan teman-temannya melakukan program yang tentunya akan membangun desa mereka dan juga masa depan generasi yang akan datang. Para pemuda-pemudi yang menganggur pun sekarang sudah dibekali softskill dan mereka mempunyai usaha sendiri. Semuanya bahagia. Mereka berharap desa mereka akan terjamah oleh keramaian kota sehingga tidak akan primitif. Jalanan mulu, kesehatan lancar dan pendidikan terjamin. Tentunya sarana prasarana yang memfasilitasi sangat dibutuhkan di desa itu. Berkat Dwi, desa mereka sekarang memiliki kemajuan sedikit demi sedikit. Dan pada puncaknya para warga di desa itu mengadakan perayaan atas kemenangan yang di raih bersama perjuangan Dwi membangun desa nya. Semoga perayaan yang dilakukan akan memotivasi generasi setelah Dwi untuk menjaga tanah kelahirannya dan memelihara sampai mati demi masa depan anak cucu di desa itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar