Senin, 06 Agustus 2018

TUGAS PSIKOLOGI PENDIDIKAN ANALISIS FILM 12 MENIT KEMENANGAN UNTUK SELAMANYA



ANALISIS FILM 12 MENIT KEMENANGAN UNTUK SELAMANYA



 

                                                                                            

JUDUL : 12 MENIT KEMENANGAN UNTUK SELAMANYA
TAHUN : 2014
NAMA : DIANA SARI
SINOPSIS :
           Elaine, remaja yang besar di Jakarta, tiba-tiba harus memindahkan seluruh hidupnya ke Bontang. Ayahnya, seorang Jepang yang juga insinyur kimia, ditugaskan memimpin sebuah departemen di sebuah perusahaan besar di Bontang. Elaine meninggalkan segala yang selama ini sangat berarti baginya. Tara memiliki gangguan berat. Sebuah kecelakaan merenggut suara dari hidupnya. Dan merenggut ayahnya. Setelah kejadian itu, Ibu Tara harus melanjutkan kuliah ke luar negeri. Tara harus diasuh opa dan omanya. Di Bontang sama. Dan demi misi sang Ibu, Tara meneruskan hidupnya. Lahang, keturunan Dayak, punya impian yang sangat besar. Ia ingin tak berhenti di kampungnya. Ayahnya sakit parah. Tak ada yang tahu apa penyakitnya. Mereka hidup hanya berdua.  Dan Lahang terjebak dalam dilema; terus memburu mimpinya atau merawat sang Ayah. Tiga remaja itu dipertemukan dalam sebuah Marching Band. Sebuah kelompok besar yang memiliki misi yang sama besarnya. Rene, pelatih Marching Band profesional, dipilih untuk membawa Marching Band Bontang ke kancah nasional. Dan bagi Rene ini adalah tantangan besar memimpin seratus dua puluh anak dari kota kecil. Mereka datang dari berbagai latar belakang. Jadwal latihan Marching Band itu padat, berat dan keras. Elaine,Tara, dan Lahang berusaha meraih mimpi mereka sambil mengatasi rumitnya masalah kehidupannya masing-masing. Dengan kegigihan dan perjuangan, grup Marching Band ini berhasil memenangkan kompetisi tingkat nasional.
Analisis Film :
            Dari film tersebut, dapat dianalisis bahwa film ini ada kaitannya dengan psikologi pendidikan. Yang pertama yaitu hakikat pendidikan profesional. Dalam buku dikatakan bahwa sebagai pendidik yang profesional, penguasaan bidang studi tidak bersifat terisolasi. Dalam melaksanakan tugasya penguasaan bidang studi terintegrasi dengan kemampuan memahami peserta, merancang pembelajaran, dan lain sebagainya. Dalam film di terapkan dengan pelatih marching band yang sangat disiplin melatih dengan tegas dan bersedia turun tangan untuk mengetahui masalah-masalah anak didiknya dengan cara memahaminya. Kedua, perkembangan. Dalam buku perkembangan merupakan sesuatu hal yang tidak bisa diukur. 
           Dalam film tersebut, cocok di terapkan pada Tara. Dimana anak tersebut dengan emosional yang tinggi susah untuk berinteraksi bahkan ikut marching band dengan terpaksa karena masih mengalami trauma dari pengalamannya, lama- kelamaan ia mulai belajar dengan cara menghargai nenek kakek, pelatih dan timnya sehingga Tara tampil dengan maksimal dan sangat minim kesalahan- kesalahan saat pelatihan yang pernah ia lakukan. Yang ketiga, perkembangan perasaan dan emosi.   
            Dalam buku dijelaskan perasaan dan emosi merupakan bagian integral dari keseluruhan aspek psikis manusia. Pada film dicontohkan oleh Lahang dan Tara. Yang masing-masing mempunyai masalah yang berbeda. Lahang yang dilema antara mengikuti pelatihan marching band atau merawat ayahnya yang sedang sakit. Namun karena rasa sayangnya terhadap ayahnya, ia rela sering terlambat mengikuti pelatihan bahkan ia sempat tak hadir. 
           Berbeda dengan Tara, ia mempunyai emosi yang marah dan rasa bersalah. Ia marah kepada ibunya mengapa harus kuliah lagi di Inggris dan menitipkan dirinya kepada opa dan oma nya. Tara merasa ditelantarkan oleh ibunya. Disamping itu, Tara merasa bersalah karena ialah penyebab kematian ayahnya. Padahal ayahnya meninggal karena kecelakaan. Yang keempat terkait dengan motivasi. Hal ini terjadi pada Elaine. Remaja yang pindah ke Kalimantan untuk mengikuti orang tuanya. Elaine sangat suka dengan marching band, namun ia harus meninggalkannya karena pindah dari Jakarta. Hal inilah yang memotivasi Elaine untuk mengikuti marching band lagi karena rasa sukanya. Selain itu, ia ingin membuktikan kepada papa nya bahwa sukses tidak harus di bidang akademik seperti olimpiade misalnya. Akan tetapi juga melalui non akademik yaitu marching band. Dan pada akhirnya dengan rasa percaya diri yang kuat dan dorongan dari mama nya dan tim marching band, Elaine mampu membawa marching band menjadi juara 1 di kompetisi nasional di Senayan Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar