Di Balik Darah Juang Masa Depan
Perjuangan memang tidak
selalu berjalan dengan mulus. Selalu saja mendapati halangan dan rintangan. Tak
sedikit orang berhasil tidak melewati sebuah perjuangan untuk mencapai apa yang
di inginkan. Karena pada dasarnya sebuah perjuangan yang kita lewati dengan
sungguh-sungguh akan menghasilkan buah yang manis. Terasa pahit memang
saat-saat melewati jembatan menuju tangga kesuksesan. Pastinya penuh dengan
keringat dan air mata. Namun dibalik kepahitan seperti buah mengkudu namun
hasil dari proses perjuangan sangatlah manis seperti madu. Hal seperti inilah
yang dialami oleh Aryanti Dwi Saleha. Ia biasa dipanggil Dwi. Si gadis desa
yang mempunyai segenggam asa untuk memajukan desanya yang jauh dari pusat
keramaian. Ia berharap desanya, anak kecil banyak yang mengenyam pendidikan
ketimbang nikah muda. Orang-orang yang pengangguran tak pergi ke kota untuk
mengadu nasib menjadi kaya dan pemuda pemudi yang tak jelas kerjanya juga
diharapkan punya skill agar mereka dapat mensejahterakan desa tempat kelahirannya.
Namun sangat sulit ia
bayangkan bisa melakukan itu semua mengingat desanya tak terjamah oleh
orang-orang kota yang memiliki kepandaian untuk melatih orang desa. Bisa
dibilang letak desanya berada di pelosok negeri. Hanya kemungkinan kecil
orang-orang besar yang datang ke desa mereka
untuk mengeskploitasi kekayaan alam di desanya. Itu pun mereka datang
secara illegal karena tak mau keberadaannya diketahui oleh banyak orang. Mereka
sangat rakus. Merampas alam dengan rasa tak berdosa. Membakar hutan, menebang
hutan dijadikan sebuah lahan baru untuk kepentingan mereka sendiri. Sangat
sedih dirasakan oleh kami termasuk aku. Akan tetapi, kami mati tak berdaya
untuk melawan kejahatan mereka. Tak punya nyali tak punya senjata untuk
mengusir mereka. Kami meratap berharap ada malaikat yang bisa menolong desa
mereka.
“Aku sudah muak melihat
orang bertopeng itu menguasai tanah kami. Tanah kelahiran kami.” Ratapan
seorang nenek dengan raut wajah kesal.
“Akupun juga seperti
itu Nenek Iyah. Bertahun-tahun kita hidup seperti ini. Punya negara namun
terasa tak ada pemerintahannya.” Timpal ibu rohaya yang sudah setengah baya.
Dwi miris, ngelu
mendengar ratapan kedua tetangganya itu.
“ Andai aku bisa melakukan apapun untuk
mereka.” Kata Dwi didalam hatinya.
Ia
masih kepikiran ucap rintihan dari tetangganya. Dengan suara gergaji yang
bising menambah suasana hatinya makin menangis. Ia ingin sekali mengusir para
penjahat negeri yang seperti tikus
mengkhianati tanah kelahirannya. Banyak orang didesa itu yang sangat terpukul
namun tak sedikit juga orang desa yang bekerja sama dengan orang kota yang
kejam itu. Bayang-bayang lingkar kepedihan memenuhi otak gadis desa itu. Ia
terus memutar otak, mencucinya agar mendapat ide untuk memajukan desanya. Dari
hasil memeras otaknya akhirnya Dwi ingat sesuatu. Ya, ingatan mengenai teman di
seberang desa.
Ia
kemudian bergegas menuju ke hulu sungai untuk pergi menemui temannya. Dengan
modal perahu kecil dan dayung ia menyusuri setiap arus sungai. Tak lama
kemudian telah sampai dirinya di desa yang lumayan terbuka dibanding desa nya
yang seharusnya mendapat perhatian penuh dari orang-orang yang mencintai
negerinya. Dwi terus berjalan menuju rumah temannya yang bernama Angga. Ia
harus meminta bantuannya untuk desa nya.
Sampailah Dwi di depan pintu Angga.
“Assalamualaikum,
assalamualaikum.” Salam Dwi sambil mengetuk pintu.
“Walaikummussalam.”
Jawab seorang ibu dari dalam rumah.
Dwi langsung tersenyum
kepada Ibunya Angga dan bersalaman. Dwi dipersilahkan masuk dan duduk.
Sedangkan Ibu Yati membuatkan teh untuk Dwi.
“Silahkan
diminum dulu Nak Dwi!” Kata Bu Yati.
“Iya
bu, terimakasih.” Jawab Dwi dengan lembut.
Setelah
minum teh, Dwi menanyakan keberadaan Angga dan menjelaskan maksud dirinya
datang jauh-jauh ke rumah Angga. Namun alangkah malang nasibnya. Saat itu Angga
sedang tidak berada di rumahnya melainkan sedang bertugas di desa lain. Dwi
sangat kecewa.
“Baiklah
buk, terimakasih atas jamuannya bu. Semoga di lain waktu bisa berjumpa dengan
ibu.” Ucap Dwi sambil berpamitan.
“Iya nak sama-sama.
Nanti kalau Angga sudah pulang, akan ku suruh menemuimu. Hati-hati dijalan ya
Nak Dwi.” Kata Bu Yati sambil
melambaikan tangan.
Dwi pulang dengan
tangan kosong karena belum bertemu dengan Angga. Namun besar harapnya semoga
esok harinya Angga dapat menemui dirinya. Yah, firasar Dwi benar. Keesokan
harinya Angga datang kerumahnya. Dengan perasaan herannya mengapa lingkungan
sekitar rumah Dwi menjadi hutan yang tak asri lagi.
“Assalamualaikum.”
Ketukan pintu dari Angga.
“Walaikumussalam, eh
Angga datang alhamdulillah.” Jawab Dwi dengan perasaan senang.
Angga langsung
menanyakan mengapa kemarin temannya itu ke rumahnya,” Kemarin ada apa Dwi kamu
mau menemuiku?”
Dwi langsung
menjelaskan tentang keadaan desa nya yang mulai kacau. Ia berinisiatif untuk
memajukan desa nya agar hidup dengan sejahtera dan mendapat lirikan dari
pemerintah kota. Selain itu ia berencana untuk menangkap dan mengusir penjahat
yang merusak alam desa nya itu. Dan ia meminta bantuan kepada Angga untuk
melakukan semua itu. Karena ia yakin takkan mampu melakukan sendiri tanpa
campur tangan temannya. Dengan penjelasan yang panjang lebar, Angga pun
mengerti maksudnya sekarang.
“ Jadi apa yang bisa
kita lakukan untuk desa ini?” Tanya Angga dengan serius.
Dwi menjelaskan
rencananya, “begini Angga aku punya rencana. Pertama yang bisa dilakukan itu
kita perlu mendidik anak-anak di desa ini untuk mencari ilmu. Yang kedua
melatih orang-orang di desa ini yang pengangguran untuk memberi keterampilan
agar tidak bergantung kepada orang lain dan punya skill, selain itu
pengangguran yang masih muda dibanding untung menikah muda atau pergi ke kota
lebih baik kita kasih motivasi dan soft skill agar mereka bisa memajukan desa
ini. Kalau bukan kita siapa lagi coba?”
“Aku
setuju dengan rencanamu Dwi. Kita harus mendirikan sekolah buat anak-anak
meskipun hanya sederhana.” Ujar Angga sambil tersenyum.
Setelah
berbincang-bincang, Angga pun pamit dengan Dwi karena masih ada kepentingan
yang harus diselesaikan. Dwi pun mempersilahkan dengan raut wajah sumringah. Dua
hari kemudian Angga dan Dwi berkeliling di desa untuk mengajak anak-anak di desa
bersekolah. Namun ada kendala banyak orang tua yang tidak setuju dengan program
yang diadaain Angga sama Dwi. Mereka berpikir bahwa sekolah tinggi-tinggi pun
percuma karena mereka jika sudah menjadi orang besar akan berubah jahat seperti
orang-orang kota itu. Angga dan Dwi berusaha untuk membenarkan tentang sekolah,
tidak semua orang seperti itu. Namun hasilnya nihil. Orang-orang di desa tetap
tidak percaya karena telah terkontaminasi oleh perbuatan jahat orang kota yang
membuat orang se desa membenci orang itu.
“Bagaimana
ini Angga? Program kita tidak akan jalan kalau banyak orang tua yang tidak
memperbolehkan anaknya bersekolah.” Tanya Dwi dengan perasaan gelisah.
Angga
pun mencoba menenangkan Dwi, “Sabar Dwi, kita tenang dulu. Kita pikirkan alasan
apa yang masuk logika untuk orang di desa. Dengan begitu akan mudah kita untuk
merayu mereka. Kita lanjutkan besok saja ya. Hari sudah mulai sore.”
Dwi
dengan perasaan lega, “ Iya Angga, aku nanti pikirkan cara untuk besok semoga
berhasil. Makasih ya.
Angga
pun mengangguk sambil tersenyum manis. Keduanya kemudian pulang ke rumah
masing-masing. Sesampainya di rumah Dwi ditanya oleh ibunya, namun jawaban Dwi
nihil hingga ibunya memberi motivasi untuk dirinya. Hari mulai malam tetapi matanya
belum bisa tidur. Ia masih memikirkan cara untuk besok. Dan seribu alasan terus
mengiang di otaknya. Alasan mana yang cocok untuk memnjelaskan kepada orang tua
calon murid-muridnya. Agar diperbolehkan untuk sekolah demi keberlangsungan
kehidupan desa nya. Pada akhirnya ada salah satu alasan yang dianggap ampuh
untuk meyakinkan para warga.
Malampun
berlalu hingga berganti fajarnya matahari. Dwi bangun dengan segar, ia masih
ingat betul alasan apa yang akan diutarakan nanti. Seperti biasa Dwi
berkeliling bersama Angga. Mereka datangi rumah-rumah warga yang mempunyai
anak-anak. Mereka menjelaskan tujuan mengadakan program ini. Dengan tegas dann
yakin atas alasannya akhirnya banyak warga yang percaya dan menyekolahkan anak
mereka.
“Alhamdulillah
ya Angga akhirnya kita bisa mendirikan sekolah.” Kata Dwi penuh syukur.
“Iya
Dwi, alhamdulilah. Semoga rencana yang lain juga berhasil ya.” Seru Angga
sambil senyum syukur.
Program
sekolah yang dijalankan pun lancar, hanya saja sebetulnya perlu bantuan untuk
kapur tulis dan buku-buku yang masih layak pakai. Tak sulit untuk itu. Angga
mempunyai teman-teman di sebrang desa yang bisa membantu mereka. Bahkan
sebagian temannya rela menjadi relawan untuk mengajar meski sarana prasarana di
desa Dwi sangatlah sulit. Anak-anak senang karena banyak guru yang datang untuk
mengajar. Mereka cantik-cantik dan ganteng dengan rasa riang mereka belajar dan
bermain bersama anak-anak. Suasana menjadi mengharukan menghanyutkan, seakan-akan
tidak ada kejadian apa-apa di desa Dwi. Di tengah-tengah suasana yanng
mengharukan tiba-tiba terdengar bunyi bisingnya gergaji. Ternyata para penjahat
itu datang lagi. Tanpa disadari banyak relawan sekolah yang menyaksikan
kejadian itu.
“Mereka
kok tega ya Angga melakukan itu semua. Apa mereka tidak punya pikiran tindakan
yang dilakukan sangat membahayakan desa ini bahkan negeri ini juga akan terkena
dampaknya.” Gerutu Dina relawan cantik.
“Ya
begitulah Din.Warga disini dan Dwi tak bisa berbuat apa-apa. Mereka takut akan
ancaman penjahat itu. Kalaupun kami melawan kita sendiri yang terancam bukan
penjahat itu!” Seru Angga dengan kesal.
Melihat
ulah para penebang illegal itu, relawan-relawan berniat untuk mengusir mereka
dengan menggunakan jalur hukum. Para relawan itu cukup cerdik. Mereka yang
mempunyai kamera, memfoto para penjahat itu secara diam-diam untuk dijadikan
bukti kepada polisi dan pemerintahan pusat.
Dengan
menunjukkan foto, Ardi berkata,”Tenang saja bukti ini sepertinya kuat untuk
mengusir mereka dan mereka akan dipenjara atas perbuatan mereka.”
Riko
menambahkan, “Betul itu Ar. Kamu jangan takut Dwi. Setelah dari sini kami akan
menuju ke balai kota dan kantor polisi. Kami akan melaporkan tindakan
oknum-oknum itu. Kamu juga tolong bilang sama warga jangan gegabah dulu
meskipun sudah gemes dengan tindakan mereka. Awasi terus saja mereka!”
Dwi
dengan bahagia dan matanya terpancar indah,”Iya Ardi, Riko makasih ya sudah mau
bantu desa ini. Semoga kita akan menang dari penjahat itu.”
Para
relawan sekaligus Angga pun meninggalkan desa Dwi karena hari sudah berlonjak
sore. Mereka takut keberadaan mereka akan dicurigai oleh penjahat itu dan akan
mengancam keselamatan mereka. Setelah mereka berpamitan, Dwi pun mengumpulkan
para warga di sekolahan untuk menyampaikan yang dikatakan Riko tadi.
“Terimakasih
para bapak dan ibu yang berkenan kumpul di tempat ini. Disini saya akan
menyampaikan hal penting mengenai para penjahat itu.” Kata Dwi dengan serius.
Suasana menjadi tegang
dan para warga memusatkan perhatiannya kepada Dwi.
Dwi
melanjutkan pembicaraannya, “Begini bapak ibu teman-teman saya sudah mempunyai
rencana dan mereka melibatkan polisi. Disini kita tidak usah takut karena ini
tanah kita. Alam kita. Kita harus mengusir penjahat itu. Untuk itu dimohon para
warga tetap awasi mereka. Dan tolong buntuti persembunyian mereka agar mudah
dilacak oleh polisi.”
Suasana
semakin mencekam. Semua diam dan membisu. Mereka kemudian bubar dan pulang ke
rumahnya masing-masing karena sudah malam. Tiga hari kemudian Angga datang
sendirian ke sekolahan di desa Dwi. Tepat sekali Dwi sedang berada disana dan
bising-bising gerjaji itu terdengar lagi. Dwi tercengang melihat Angga datang
sendirian. Bukankah seharusnya dia datang sama teman-temannya? Namun dia datang
sendirian. Angga pun menceritakan semua yang telah terjadi. Ternyata
teman-teman Angga diancam oleh para oknum penjahat itu. Mereka tahu dari
salah satu penduduk desa ini yang
bekerja sama dengan mereka. Namun teman-teman Angga tidak menyerah. Mereka
pura-pura menyerah dan tidak melaporkan mereka. Tetapi mereka tetap melaporkan.
Oleh karena itu, aku datang sendiri dan mereka akan datang sebentar lagi
sekitar 15 menit.
Benar
kata Angga, teman-temannya datang dengan polisi. Mereka mengendap-endap agar
tidak tercium kehadirannya oleh penjahat itu. Beberapa menit kemudian saat-saat
mereka lelah dan lengah karena sehabis melakukan tindakan terlarang. Mereka
ditangkap dengan sigap oleh polisi. Sungguh menakjubkan banyak polisi yang
turun tangan. Kami pun tidak tinggal diam. Kami menangkap warga yang dicurigai
sekongkol dengan oknum itu. Mereka kami tangkap dan di ikat dengan kencang
serta diserahkan ke polisi. Suasana nya sangat mencekam. Semua masih tidak
percaya akhirnya para penjahat pergi juga dari desa yang kami cintai.
“Kau
hebat Angga dan juga teman-temanmu!” Kata Dwi sambil menepuk pundak Angga.
“Kau
juga hebat Dwi.” Balas tepukan dari Angga.
Semua
terdiam. Dan Riko berkata sambil jingkrak-jingkrak, “akhinya.....”
Semua tertawa. Mereka semua bahagia
karena telah berhasil meringkus penjahat. Angga pun tidak lupa mengingatkan
program-program yang telah direncanakan oleh mereka berdua. Dwi pun ingat dan
akan menjalankan tugasnya.
“Baiklah
Angga terimakasih kamu sudah mengingatkanku. Saatnya kita memajukan desa ini.”
Kata Dwi kepada Angga.
“Kita?”
Jawab Angga dengan menggoda Dwi.
Dwi
pun membalas, “ ehmm ehmm maksudnya kita
sama teman-temanmu itu.”
Hari-hari
sudah berlalu. Semenjak kejadian itu semuanya menjadi lebih baik. Dwi bersama
Angga dan teman-temannya melakukan program yang tentunya akan membangun desa
mereka dan juga masa depan generasi yang akan datang. Para pemuda-pemudi yang
menganggur pun sekarang sudah dibekali softskill dan mereka mempunyai usaha
sendiri. Semuanya bahagia. Mereka berharap desa mereka akan terjamah oleh
keramaian kota sehingga tidak akan primitif. Jalanan mulu, kesehatan lancar dan
pendidikan terjamin. Tentunya sarana prasarana yang memfasilitasi sangat
dibutuhkan di desa itu. Berkat Dwi, desa mereka sekarang memiliki kemajuan
sedikit demi sedikit. Dan pada puncaknya para warga di desa itu mengadakan
perayaan atas kemenangan yang di raih bersama perjuangan Dwi membangun desa
nya. Semoga perayaan yang dilakukan akan memotivasi generasi setelah Dwi untuk
menjaga tanah kelahirannya dan memelihara sampai mati demi masa depan anak cucu
di desa itu.
